PMIIDIY – Ada keresahan yang belakangan mengendap di meja-meja perkopian kader. Euforia berorganisasi perlahan kehilangan gaungnya. Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi tumbuh melalui proses yang panjang dan sering luput dari perhatian.
Kader hari ini hidup di tengah perubahan yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan organisasi beradaptasi. Akibatnya, retakan mulai terlihat di berbagai ruang. Forum diskusi semakin sepi. Obrolan di meja perkopian bergeser ke isu lain. Bahkan pertigaan UIN yang dulu dikenal sebagai “pertigaan revolusi” kini semakin jarang menjadi ruang aksi. Itulah potret mahasiswa Jogja hari ini.
Perubahan zaman membawa konsekuensi besar. Sistem modern membentuk banyak mahasiswa menjadi lebih pragmatis dan individualis. Karakter itu lahir dari mekanisme kapitalisme global yang bekerja secara perlahan.
Zygmunt Bauman pernah mengatakan:“Di dalam masyarakat konsumer, hubungan antarmanusia sering kali dilihat dari kacamata janji dan ekspektasi instan layaknya produk: kepuasan di tempat, dan jika tidak puas, kembalikan barangnya atau ganti dengan yang baru.”
Kapitalisme tidak menyerang secara terbuka. Sistem ini mengubah cara mahasiswa memandang waktu, relasi, dan makna perjuangan. Konsumerisme menjadi budaya sehari-hari. Banyak orang mengukur nilai diri dari apa yang dapat dipamerkan. Akibatnya, muncul krisis identitas. Banyak kader mulai kehilangan arah: berdiri untuk siapa, berjuang sebagai apa, dan menuju ke mana. Ketika identitas memudar, PMII ikut kehilangan pijakan di hati kadernya.
Kaderisasi PMII Berhadapan dengan Realitas Baru
Di sinilah PMII menghadapi tantangan besar. Organisasi yang lahir dari tradisi perjuangan dan Ahlussunnah wal Jamaah tidak cukup mempertahankan simbol atau jumlah kader. PMII harus memastikan bahwa kaderisasi tetap relevan dengan kebutuhan generasi hari ini.
Hakikat kaderisasi adalah menanamkan nilai sekaligus menyiapkan kader menghadapi perubahan zaman. Sayangnya, perkembangan zaman melaju lebih cepat daripada pembaruan sistem kaderisasi. Banyak organisasi, termasuk PMII di berbagai tingkatan, masih memakai pola lama tanpa evaluasi yang memadai.
Materi sering berulang. Metode pembelajaran terasa monoton. Bahkan, proses kaderisasi terkadang dipimpin oleh orang yang belum matang secara intelektual maupun kepribadian.
Akibatnya, kaderisasi gagal membentuk karakter secara utuh. Organisasi memang menghasilkan banyak kader, tetapi tidak selalu melahirkan kader yang berkualitas. Loyalitas pun sering lahir dari formalitas, bukan dari kesadaran. Kondisi ini menjadi ancaman serius karena akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kematangan SDM Menjadi Kunci
Masalah tersebut membawa kita pada satu kesimpulan. Kaderisasi yang baik hanya dapat lahir dari sumber daya manusia yang matang. Sistem yang baik tidak akan berjalan tanpa pelaksana yang memiliki kapasitas, integritas, dan semangat pengabdian.
Sebelum menyusun kurikulum atau modul kaderisasi yang ideal, PMII perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar. Siapa yang akan menjalankan proses itu? Apakah mereka sudah melalui penempaan yang memadai?
Instruktur, fasilitator, dan pendamping kaderisasi harus dibentuk melalui proses yang serius. Organisasi tidak boleh memilih mereka hanya karena faktor senioritas atau kedekatan personal. Penempaan SDM membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Hasilnya memang tidak terlihat dalam hitungan bulan, tetapi akan tampak ketika kader yang ditempa tumbuh menjadi pemimpin di berbagai bidang.
Sayangnya, budaya serba cepat membuat proses panjang itu terasa tidak menarik. Banyak orang menganggapnya tidak efisien. Padahal justru di situlah letak nilai kaderisasi. Kaderisasi bukan proyek jangka pendek. Ia adalah proses pembentukan manusia yang berlangsung terus-menerus.
Kaderisasi Adalah Tirakat Panjang Organisasi
Karena itu, PMII perlu memandang kaderisasi sebagai tirakat panjang, bukan sekadar agenda administratif. Tirakat berarti menjalani proses dengan kesabaran, kesungguhan, dan keyakinan bahwa hasil besar lahir dari kerja yang panjang.
Tantangan PMII hari ini bukan hanya soal mempertahankan organisasi. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga konsistensi dalam merawat kaderisasi dari generasi ke generasi.
PMII tidak akan pernah selesai berbicara tentang kaderisasi. Justru di situlah denyut kehidupan organisasi berada. Selama kaderisasi terus berjalan, harapan organisasi akan tetap hidup.
Tan Malaka pernah berkata, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda.” Maka saya ingin menambahkan satu kalimat:“Kaderisasi adalah kemewahan terakhir yang dimiliki PMII.”
Ilmu dan bakti kuberikan.
Adil dan makmur kuperjuangkan.
Salam Pergerakan!



