AI Perubahan Sosial: Savic Ali Bedah Dampaknya di PKL DIY

YOGYAKARTA – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) D.I. Yogyakarta menghadirkan Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi, Savic Ali, dalam Pelatihan Kader Lanjut (PKL). Pada kesempatan ini, beliau mengulas materi bertajuk Artificial Intelligence dan Perubahan Sosial.

Savic Ali menegaskan bahwa kemajuan teknologi selalu membawa dampak besar bagi tatanan kehidupan. Publik dapat menyimak informasi lengkap kegiatan kaderisasi melalui situs resmi PMII DIY.

Pergeseran Fisik ke Kognitif dalam Sejarah Teknologi

Beliau menjelaskan perbedaan mendasar antara revolusi industri klasik dan era kecerdasan buatan. Dahulu, mesin menggantikan tenaga fisik manusia agar proses produksi berjalan lebih cepat.

Namun, teknologi kecerdasan buatan kini mulai mengambil alih fungsi kognitif manusia. Sistem cerdas mampu menganalisis data, menemukan pola, hingga memberikan rekomendasi keputusan.

“Dahulu mesin menggantikan kemampuan fisik, sedangkan sekarang teknologi mengambil alih sebagian kemampuan berpikir. Oleh sebab itu, tantangan saat ini menyangkut cara manusia mengambil keputusan,” ujar Savic Ali saat memberikan materi.

Dilema Nilai Sosial dan Kesiapan Regulasi

Selanjutnya, beliau menyoroti ancaman ketidakseimbangan antara kecepatan teknologi dan kesiapan nilai masyarakat. Perkembangan teknologi bergerak sangat cepat, sementara penyesuaian norma sosial membutuhkan waktu lebih lama.

Oleh karena itu, pembentukan perilaku sosial tidak cukup melalui upaya edukasi semata. Pemerintah dan lembaga terkait perlu merumuskan aturan hukum yang mengikat.

Regulasi ketat wajib mengatur batas penggunaan teknologi, perlindungan tenaga kerja, keamanan data, serta etika pengambilan keputusan. Informasi mengenai kajian kebijakan digital dan advokasi dapat dibaca pada arsip berita advokasi PMII.

Menjaga Kendali Kemanusiaan atas Teknologi

Di akhir pemaparannya, Savic Ali menyimpulkan bahwa perubahan masyarakat melibatkan hubungan antara ekonomi, hukum, dan struktur sosial. Pihaknya mengingatkan agar teknologi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh motif efisiensi ekonomi semata.

Dengan demikian, kajian mengenai AI Perubahan Sosial bukan sekadar persoalan teknis alur kerja. Kader PMII harus memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *