Jogja Istimewa, Gerakan Mahasiswa dan Tanggung Jawab Menjaga Indonesia

Muhammad Rafli (Bidang Advokasi dan Jaringan Pengurus Cabang PMII Daerah Istimewa Yogyakarta)

Yogyakarta adalah rumah bagi pendidikan, kebudayaan, sekaligus tradisi gerakan mahasiswa. Keistimewaan Jogja tidak hanya diwariskan melalui sejarah, tetapi juga harus dijaga melalui sikap dan tindakan seluruh elemen masyarakat.

Dalam menjaga Jogja tetap aman, damai, dan kondusif, Pemerintah Daerah DIY dan Aparat Penegak Hukum (APH) memiliki peran yang sangat penting. Pemerintah memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas sosial dan memastikan pembangunan berjalan untuk kepentingan masyarakat. Sementara APH memiliki tugas menjaga keamanan, ketertiban, serta memastikan hukum ditegakkan secara profesional dan bertanggung jawab.

Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa, kita perlu menempatkan kritik sebagai bentuk kepedulian, bukan sebagai alasan untuk menciptakan kegaduhan. Gerakan mahasiswa harus tetap kritis, tetapi juga harus dewasa dalam menjaga ketertiban dan menghormati hak masyarakat luas.

Kami mendukung langkah pemerintah dan APH dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat di Yogyakarta. Namun, pada saat yang sama, ruang dialog dan komunikasi dengan mahasiswa harus terus diperkuat agar setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui musyawarah.

Jogja tidak membutuhkan konflik. Jogja membutuhkan gagasan, dialog, kolaborasi, dan gerakan yang memawa manfaat bagi masyarakat.

Semangat menjaga ketertiban tersebut juga harus kita perluas menjadi solidaritas kemanusiaan. Ketika saudara-saudara kita di NTT menghadapi bencana, maka masyarakat Jogja, termasuk mahasiswa, harus menunjukkan bahwa kepedulian tidak mengenal batas wilayah.

Gerakan mahasiswa tidak hanya hadir ketika menyampaikan aspirasi, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Menggalang bantuan, mengajak masyarakat berdonasi, dan membantu korban bencana adalah bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada rakyat.

Karena itu, mari kita bangun sinergi bersama untuk menjaga Jogja tetap aman sekaligus menjadikan gerakan mahasiswa sebagai kekuatan sosial yang konstruktif.

Kritis boleh. Berbeda pendapat adalah keniscayaan. Tetapi menjaga ketertiban, persatuan, dan kemanusiaan adalah tanggung jawab kita bersama.

Jogja Istimewa, Indonesia Damai.

Jaga Jogja, jaga persatuan.

Dari Jogja, kita kuatkan KeBhinekaan.

 

Penulis : Muhammad Rafli

Bidang Advokasi dan Jaringan PC PMII DIY

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *